Pencurian Kerap Terjadi,P4B Mengadu ke DPRD

Siantar,suarasiantar.com |
Perlindungan persaudaraan pedagang pasar bersatu atau P4B resah atas maraknya pencurian di pasar Horas Jaya. P4B akhirnya mengadu ke DPRD Pematangsiantar, Rabu (12/2/2020) pagi.

Ketua P4B, Nobel Marpaung mengatakan, kasus pencurian terjadi di Pasar Horas sudah meresahkan pedagang. Kasus pencurian secara berulang-ulang itu sudah dilaporkan ke Direktur SDM, Imran Simanjuntak.

Hanya saja, pedagang menilai Imran tidak terlalu merespon sehingga P4B memutuskan untuk mengadu ke DPRD Pematangsiantar.

“Ketika kita sudah surati, dan terakhir pada 1 Februari tapi tidak ditanggapi. Artinya kenapa tidak ditanggapi Itu lah alasan kita melapor ke DPRD,” jelasnya.

Selain itu, para pedagang juga merasa kesal saat kasus pencurian yang melibatkan oknum pegawai PDPHJ sebagai terduga pelaku hanya diberi sanksi pecat saja.

Dari kejadian itu pula, para pedagang semakin khawatir jika ada sindikat pencurian yang melibatkan oknum oknum tertentu.

“Ada petugas PDPHJ yang tertangkap seharusnya itu dibawa ke proses hukum, ke Polsek, kenapa hanya dipecat saja, artinya kasus pencurian ini tak mau diungkap,” katanya.

Surat pengaduan beserta fotocopy STPL terkait laporan-laporan kasus pencurian ke Polsek Siantar Barat turut dilampirkan dalam surat. Terakhir kasus pencurian terjadi pada tanggal 7 Februari 2020.

“Kenapa kami surati Pak Imran, karena kami merasa dia Direktur SDM yang mengetahui SDM para karyawannya,” kata Nobel menjelaskan pengaduan ke DPRD tersebut.

Terpisah, Direktur SDM Imran Simanjuntak menilai kasus pencurian yang terjadi di Pasar Horas tidak lepas dari kondisi patologi sosial masyarakat.

Ia mengakui bahwa pihaknya telah memecat sebanyak 3 orang pegawai yang terlibat kasus pencurian.

“Secara prosedural tugas kita hanya memecat. Itu sanksi hukum ditingkatan perusahaan. Kalau pidana bukan urusan kami,” katanya menegaskan.

Mengenai laporan pencurian yang terjadi, Imran memilah-milah bahwa ada kasus pencurian diluar tanggung jawab perusahaan. Sebab yang dirugikan bukan pedagang yang memiliki kios tapi PKL [Pedagang Kaki Lima].

“Itu PKL, jadi PKL itu dilarang meninggalkan barang dagangan. Dilarang menambahi tempat tempat dagangan, itu sudah aturan. Tapi ditinggalkannya barangnya,” kata Imran ditemui Rabu, sore.

Dalam kasus tersebut, Imran dengan tegas menolak jika pihaknya dibebankan dalam hal kasus pencurian diluar tanggung jawab perusahaan.

“Lantas ini mau dibebankan ke PDPHJ ? sementara dia (pedagang) kan PKL. Dia berjualan di Taman yang jelas-jelas dilarang, Gedung II lantai I,” katanya.

Imran balik menduga jika pencurian ini terjadi antara persaingan bisnis para pedagang PKL yang berjualan pakaian bekas. “Yang kecurian ini sudah datang ke kita. Sudah kita proses, sampai kita cari cari orang yang dicurigainya,” jelasnya.

Terpisah, Kapolsek Siantar Barat, Iptu Subagya membenarkan adanya laporan pengaduan terkait pencurian ke Polisi Sektor Barat.

“Saksi saksi sudah kita panggil. Untuk perkembangan selanjutnya kita masih kordinasi dengan Pos Polisi di Pasar Horas. Jadi tidak menutup kemungkinan kita panggil pihak terkait,” jelasnya.

Iptu Subagya menyampaikan bahwa, dirinya pernah menyararankan agar Direksi PDPHJ memasang CCTV di pasar tradisional tersebut. (SS02/suarasiantar)

Facebook Comments

Comment

Leave a Reply

News Feed