‘Critical Eleven’, 11 Menit Paling Kritis Dalam Penerbangan

by -2 views
inner-post-atas
Ethiopian Airline dan Lion Air, Boeing 737 MAX 8 (sumber : planespotters.net)

suarasiantar.com – Sebuah pesawat Boeing 737 jenis MAX 8 milik Ethiopian Airlines jatuh pada Minggu dini hari dalam perjalanan menuju Nairobi dengan membawa 147 penumpang dan 8 awak di dalamnya. Pesawat nahas tersebut tinggal landas dari Bandara Bole, Addis Ababa pada pukul 08.38 waktu setempat dan kemudian hilang kontak dengan menara pengendali bandara sekitar 6 menit kemudian, yaitu pukul 08.44.

Tahun lalu, tepatnya 29 Oktober 2018, pesawat dengan jenis yang sama milik maskapai Lion Air, jatuh di Laut Jawa, tak lama setelah lepas landas dari Jakarta setelah mengudara sekitar 10 menit. Sementara pesawat-pesawat ini rata-rata masih berumur kurang dari 6 bulan sejak diterima oleh masing-masing maskapai. Sebenarnya apa yang terjadi dan mengapa pesawat dengan usia pakai yang masih sangat muda tersebut bisa mengalami kecelakaan?

Critical Eleven Plus Three Minus Eight

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven atau Plus Three Minus Eight. Istilah ini merujuk pada saat genting di mana kecelakaan pesawat sering kali terjadi, yakni tiga menit pertama dan delapan menit terakhir penerbangan. Critical eleven juga disebut sebagai 2 momen di mana pesawat paling rentan menemui keadaan berbahaya.

Menit-menit itu menjadi sangat penting dalam penerbangan karena pilot yang bertugas harus melakukan komunikasi secara intensif dengan menara pengawas atau biasa disebut Air Traffic Controller (ATC), untuk mengendalikan pesawat sesuai dengan standar operasi yang berlaku. Tiga menit pertama digunakan untuk mencari posisi stabil dan mengontrol kecepatan ketika pesawat mulai mengudara. Sementara 8 menit terakhir digunakan untuk menurunkan kecepatan dan menyesuaikan dengan landasan.