JELANG TUJUH TAHUN, MARPES TETAP EKSIS DAN PEDULI

MARPES Ajang Silaturahmi dan Kegiatan Sosial Oleh: (Raen Yoesz)

Makna-Arti-Logo-MARPES-Mantan-Anak-Rindam-I-BBist@suarasiantar.com_

SIANTAR, suarasiantar.com – Makna dan arti sebuah logo MARPES adalah berdasarkan dari bumi dunia (Globe) yang artinya MARPES tidak kemana-mana tapi ada dimana – mana, baik di dalam negeri maupun yang diluar negeri,

Tali tambang ini melambangkan persatuan yang artinya untuk menyatukan dan memperat tali persaudaraan MARPES  yang tidak akan pernah terputus, karena MARPES sudah disatukan kembali melalui tali silaturahmi

Pita Emas menandakan kokohnya MARPES, terdidik keras, disiplin. makan beras catu dengan ekonomi pas-pasan, tapi terbukti “MARPES banyak yang berhasil dan sukses dimana saja, baik itu didalam negeri maupun di diluar negeri.

Warna mengingatkan kenangan kembali, bahwa seluruh penghuni MARPES pasti pernah merasakan suka dan duka dengan histori yang sama, saat menjadi penghuni anak kolong di Asrama Rindam I/ Bukit Barisan Pematangsiantar.

MARPES adalah singkatan dari Mantan Anak Rindam Pematangsiantar Sedunia, Paguyuban ini awalnya hanya sebuah kelompok arisan yang dijadikan ajang silaturahmi anak Rindam Pematangsiantar yang sudah tidak lagi berpenghuni di asrama.

Namun seiring dengan perkembangan zaman tekhnologi sekarang ini, MARPES semakin besar dan selalu aktif dalam berbagai kegiatan. Di Ibukota Jakarta perkumpulan MARPES sudah lama terbentuk dan bersatu dalam paguyuban sosial arisan Mantan Anak Rindam Pematangsiantar diperantauan.

Hingga sekarang arisan MARPES di Jabodetabek selalu eksis disana yang di Ketuai oleh  Binsar Simanjuntak , Sekretaris Anto Ginting dan Bendahara Salim sinuhaji. tak hanya itu, mereka juga membentuk Koperasi Mantan Anak rindam atau sering disebut KOMARIS yang bergerak dibidang ekonomi kerakyatan yang diketuai oleh Eddi Silitonga.

Terakhir, dengan cepatnya informasi  dan canggihnya tekhnologi, Ir. Karyanta Sinulingga terdetak membuat group MARPES melalui situs jejaringan sosial facebook yang sengaja untuk mempertemukan kembali anak Rindam yang pernah menjadi penghuni asrama yang keberadaanya tidak dapat diketahui, hingga upaya tersebut tidak sia sia.

Group fb Marpes ternyata semakin berkembang, bahkan anak Rindam yang diluar daerah dan di luar negeri  terlihat kompak di group ini, Kini mereka merasakan dekat dengan persaudaraan ini dan tidak sampai setahun lamanya berhasil mempertemukan anak Rindam disegala penjuru melalui jejaringan social facebooker hingga ke BBM dan WhatsApp.

Kemudian silaturahmi anak Rindam dilanjutkan kedunia nyata, selanjutnya anak Rindam melaui dunia maya menggelar pertemuan rutin guna memperkuat persaudaraan. Tepat tanggal 20 Mei 2012 tujuh tahun lalu kelompok anak kolong membentuk nama group MARPES dan akhirnya di kukuhkan.

Sejak terbentuknya perkumpulan ini MARPES bisa diperuntukan bagi semua orang yang pernah tinggal di sekitar Rindam I/ Bukit Barisan yakni Setia Negara, Naga Huta, Perumnas dan sekitarnya, bahkan terbuka juga bagi orang orang yang pernah merasakan pergaulan bersama penghuni asrama (anak kolong).

Keanggotaanya juga didasari kesadaran anggota untuk berkumpul dan tidak ada paksaan untuk bergabung di group “MARPES “ Kalo dihitung hitung mungkin anggota group MARPES diseluruh dunia ini berjumlah ribuan,” ujar Ketua MARPES Siantar Hafluddin Nasution.

Ditambahkannya bahwa group MARPES di jejaringan facebook ini dibentuk dengan tujuan membangun tali silaturahmi sesama anak Rindam Pematangsiantar yang berada di seluruh Indonesia maupun seluruh dunia dapat merasakan pertemuanya dengan rasa kekeluargaan walau hanya di dunia maya.

Senam Sehat di HUT MARPES (Raen/suarasiantar.com)

Raen Yoesz selaku pengurus menambahkan, selain menjalin tali silaturahmi, MARPES sangat peduli dengan kegiatan sosial, dengan kepeduliannya MARPES sudah kedua kalinya mengunjungi posko -posko pengungsi di Kabanjahe guna membantu warga sinabung yang terkenak dampak eurupsi dari abu vulkanik.

Dalam kunjungan tersebut MARPES tak bosan – bosannya memberikan bantuan berupa masker, air mineral dan buku- buku dongeng. Buku dongeng tersebut sengaja diberikan khususnya kepada anak – anak pengungsi agar mereka nantinya dapat terhibur dengan membaca dan tidak merasakan jenuh selama mereka mendekam di pengungsian.

Photo Ultah MARPES Ke_1 (Raen/suarasiantar.com)

Bahkan MARPES juga sudah kedua kalinya menggelar kegiatan tali asih terkait hari jadi MARPES yang kedua dan ketiga. Adapun kegiatan tali asih tersebut mengunjungi orang tua kita yang sudah lansia dengan memberikan berupa cendera mata sebagai bentuk kasih sayang, begitu juga dengan kegiatan HUT MARPES lainnya menggelar senam sehat gratis plus hadiah lucky draw bagi warga yang beruntung.

Intinya MARPES tempat perkumpulan bersifat kekeluargaan dan menjadikan wadah untuk tolong menolong dan bagi kelurga kita yang ketimpa musibah, kita selalu update memberikan bantuan semampunya melalui kas MARPES maupun sumbangan rekan –  rekan MARPES yang tergabung di group tersebut.begitu juga dengan keluarga kita yang sedang berduka cita maupun yang lagi bersuka cita.

Photo UltahMARPES Ke_3 (Raen/suarasiantar.com)

 

Namun perlu juga di ingat bahwasannya group facebooker MARPES bukanlah berbentuk Organisasi, Ormas, Partai Politik, LSM maupun sejenisnya tetapi group yang menjalin silaturahim sesama anak kolong dalam paguyuban Mantan Anak Rindam Pematangsiantar Sedunia yang dikenal dengan sebutan MARPES.

Keberadaan Sekretariat MARPES masih beralamatkan di Jalan Naga Huta tepatnya di Safira Net Simpang Rindam Kelurahan Setia Negara Kecamatan Siantar Sitalasari Kota Pematangsiantar, dan bagi yang ingin bergabung melalui jejaring social facebook, dipersilakan membuka link ; mantan anak rindam p.siantar (marpes) & komaris (kop.mantan anak rindam ps). ***

MARPES Peduli Kunjungi Pengungsi

MARPES Peduli Sinabung Part – 1 (Raen/suarasiantar.com)

Minggu menjelang senja tepat 29 Agustus 2015 sekira pukul 14.30 WIB, cuaca di Tanah Karo cenderung gelap seperti tak bersahabat karena langit masih tertutup asap hitam. Dari kejauhan, puncak Gunung Sinabung terlihat kokoh dan garang sambil sesekali memuntahkan abu tipis vulkaniknya.

Rombongan Mantan Anak Rindam Pematangsiantar disingkat (MARPES),saat itu baru tiba di lokasi pengungsian, tepatnya di gedung Serbaguna KNPI Kota Kabanjahe yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Tanah Karo.Kedatangan MARPES kedua kali mendapat sambutan hangat dari para pengungsi. Rasa bosan dan jenuh menanti relokasi hingga kini tak jua kunjung terobati

Setahun setengah sudah para pengungsi menyesaki gedung Serbaguna/KNPI, kunjungan masyarakat ke lokasi itu mulai surut dengan sendirinya. Mereka tak tau kapan semuanya akan berakhir. Tinggal di rumah dan berkumpul serta bercanda bersama keluarga, saat-saat yang tak pernah mereka rasakan lagi dimulai saat pasca bencana Gunung Sinabung meletus.

“Yah, kunjungan apalagi bantuan dari masyarakat sudah mulai sepi pak,” ujar salah seorang pengungsi menyambut kedatangan MARPES. “Bantuan masih cukup, masih adalah bantuan dari pemerintah yang dicukup-cukupkan kepada seribu dua ratus jiwa” tambah pria yang menjaga posko dan bagian penerimaan bantuan bagi pengungsi.

Pengungsi Sinabung Memprihatinkan,

MARPES Peduli Sinabung (Raen/suarasiantar.com)

Kawasan pekarangan gedung Serbaguna KNPI tidak banyak terlihat anak-anak yang bermain. Mereka memilih berkumpul di teras gedung sambil menatap ke arah pintu gerbang masuk. Tatapan mereka begitu penuh harapan yang sangat mendalam. Siapa saja orang yang datang ke lokasi pengungsian, mereka seolah tak mau luput untuk memerhatikannya. Ada pesan seolah mereka berharap uluran tangan.

Cuaca semakin gelap, mendung bergulung dan hujan pun turun dengan lebatnya. Sebagian ibu-ibu muda bahkan yang tua renta, bersesak di sepanjang teras untuk berlindung dari gempuran air hujan. Kelompok MARPES ikut berteduh di antara sesaknya lokasi pengungsian. Baik teras gedung mau pun seluruh ruang di dalamnya, ratusan tubuh pengungsi sudah memadatinya.

Tidak banyak aktivitas di pengungsian saat ini. Tidak tampak pula masyarakat dari luar daerah mau pun seputaran Kabanjahe dan Berastagi, ramai berkunjung di lokasi penampungan itu. Di awal-awal bencana Gunung Sinabung meledak, tak terhitung banyaknya masyarakat berbondong-bondong menyalurkan sumbangan bagi para pengungsi.

Berbeda dengan saat ini, pengungsi hanya berpangku tangan dari bantuan pemerintah saja. Korban Sinabung yang berada di gedung Serbaguna KNPI, adalah pengungsi dari korban Sinabung tahap 3. Sebutan korban Sinabung tahap 3 lantaran mereka semua bermukim di seputaran radius 7 kilometer dari kaki Gungung Sinabung.

Sedangkan tahap 1 dan tahap 2, sudah mendapatkan daerah relokasi berupa perumahan dan lahan.“Kami belum tahu kapan kami direlokasi pak,” keluh Boru Ginting saat diajak bincang-bincang. “Katanya, kami akan dimandirikan. Artinya kami akan mendapat bantuan sewa rumah dan lahan, entah berapa jumlah bantuan dan entah kapan kami baru mendapatkannya. Sementara ini kami hanya menunggu sambil bertahan bersesakan di dalam gedung yang diberikan pemerintah ini.

Terhitung sampe sekarang, sudah satu tahun setengah kami di sini. Berbagai konflik di antara sesama pengungsi, tak jarang terjadi. Jenuh, bosan dan tak mendapatkan kepastian, biasanya menjadi pemicu. Belum lagi, kurangnya sarana hiburan baik dari pemerintah apalagi masyarakat. “Kalau dulu, Media, LSM serta masyarakat, mau memberikan dorongan moril. Menghiburlah bagi kami. Tapi sekarang, kami seperti ditinggalkan,” ratapnya.

MARPES Mengibur Pengunsi Sinabung

MARPES Peduli Sinabung Paert – 2 (Raen/suarasiantar.com)

Kedatangan MARPES kedua kali ini menurut Boru Ginting, sangat berharga besar bagi mereka korban Sinabung. Walau hanya memberikan bantuan berupa masker dan buku dongeng untuk anak-anak mereka, bahwa MARPES sudah membuktikan jati diri anak bangsa yang patut dihargai. “Karena sekarang ini sudah jarang yang datang berkunjung. Kedatangan MARPES ini membuat semangat baru buat kami,” ujar Tarigan pula.

Rika menjelaskan, kunjungan kedua kali ke lokasi pengungsian murni sebagai bentuk kepedulian sosial kepada sesama pengungsi untuk saling berbagi “Kunjungan ini adalah rangkaian Tali Asih di akhir kegiatan Hari Ulang Tahun Marpes Yang Ke-3” setelah hampir setahun yang lalu kita membuat kegiatan sosial serupa mengatas namakan “MARPES Peduli Sinabung”

Kita berharap, perhatian terhadap korban Sinabung jangan berhenti sampai disitu saja. Jangan kita hanya disibukan dengan politik terus ternyata korban Sinabung di sini masih membutuhkan uluran tangan kita. Baik bantuan berupa materil maupun Pisikologis. Karena para korban sudah mulai apatis dan kecewa.

Mendengarkan keluhan mereka saja, sudah bisa mengurangi beban mereka,”Saat ini 200 lebih anak-anak korban Sinabung membutuhkan bantuan untuk kebutuhan sekolah dan kegiatan-kegiatan yang bisa mengurangi kejenuhan dan trauma anak. Ada sekitar 300 manula dan 200 Balita yang masih membutuhkan perhatian khusus.

“Mudah-mudahan kita masih bisa menjadi orang yang peduli dan berbagi mari mengulurkan tangan kita untuk memberikan bantuan. Sekecil apa pun bantuan itu sangat berharga bagi para korban bencana,” urai Rika.

Tak lupa Rika dan rombongan mengucapkan terima kasih kepada semua rekan-rekan MARPES atas partisipasi dan surpotnya, sehingga kegiatan sosial tersebut dapat disalurkan dan diterima warga pengungsi dengan baik.

Usai memberikan bantuan, tim MARPES Peduli tak langsung beranjak pulang, mereka menyempatkan diri untuk memberikan hiburan kepada anak-anak korban Sinabung dengan bercerita, mendongeng dan mengajak anak-anak bermain. (***)

Facebook Comments

Comment

Leave a Reply

News Feed