Jangan Membuang ‘Sampah’

oleh : VY

Pertama kali datang ke kota ini aku menyadari bahwa masalah tempat membuang sampah adalah hal yang serius, amat sangat kurang mendapat perhatian oleh pemerintah setempat. Aku kadang sampai jengkel karena tasku jadi penuh oleh sampah-sampah yang terpaksa aku simpan dulu sampai aku membuangnya di tempat sampah yang ada di rumah. Bungkus permen, bungkus roti, plastik tutup air mineral, pokoknya bermacam-macam sampah kecil menjadi…. Oohhhh, tissue bekas…. Banyak sekali.

“Tidak ada tempat sampahnya ya?” Aku menoleh ke kanan ke kiri dan tangan kananku yang memegang kemasan botol air mineral juga ikut bingung harus ke kanan atau ke kiri.

“Campakkan aja, kak!” Temanku duduk memberi saran.

“Campakkan bagaimana…?” Aku bingung dengan maksud kata campakkan.

“Campakkan saja di bawah…. Gapapa itu…”

“Di lantai maksudmu?”

“Iya… Nanti disapu orang itunya nanti. Biarlah orang itu yang pikirkan mau dibuang kemana sampahnya..” Keterangan yang lebih lengkap tapi tetap tidak kumengerti.

“Ishhh… Ada-ada saja…” Aku mengindahkan sarannya dan memasukkan kemasan botol air mineral kosong itu ke dalam tasku. Sudah ada dua di dalam, ini yang ketiga. Tempat kami duduk bukan kedai emperan, tetapi kalau di kota ini disebutlah kafe…… Iya, di dalam kafe pun kita agak kesulitan menemukan tempat sampah apalagi di tempat umum yang terbuka.

Masih pagi tapi jalan Pattimura sudah dipenuhi dengan kendaraan bermotor. Mobil, sepeda motor, beca dan angkutan umum. Karena masih segar aku terbiasa tidak menghidupkan alat pendingin ruangan mobil, agar dapat menikmati udara segar yang natural, udara Siantar.

Jalanan penuh dengan anak sekolah ada yang mau ke SMA N 3 di jalan Pane. Ada yang mau ke SMP N 8, ada yang mau ke SMA N 4, hilir mudik ramai merayap. Jadi aku pun tidak bisa berkendara dengan kecepatan yang tinggi. Merayap-lah juga. Lalu…

“…Ehhhh, Bu…! Jangan buang sampahnya di situ….!!!” Aku berteriak saat terlihatku seorang ibu muda mencampakkan bungkusan plastik dari atas jembatan sungai Bah Bolon yang melintasi jalan Pattimura, dimana aku sedang berkendara. Ibu muda itu hanya menoleh dan memberiku senyuman sembari melanjutkan perjalanannya dengan sepeda motornya. Sama sekali tidak merasa bersalah. Memang cuma bungkusan plastik kecil, tapi kalau setiap hari ada yang melakukan hal tersebut, bukankah jumlah sampah akan lebih banyak dari jumlah air yang mengaliri sungai tersebut?

“Sering, Mi…” Anakku berkomentar.

“Sering ya, nak”

“Sering. Hampir tiap pagi, kalau lewat, aku lihat selalu ada yang buang sampah ke sungai itu.”

“Apa iya…?” Aku juga agak kaget, karena baru kali ini memperhatikan.

“Kemarin ada yang buang sampahnya cuma bunga-bunga.”

“Bunga-bunga bagaimana?” “Apakah bunga-bunga juga kategori sampah?” Pikirku.

“Yang keluar dari plastiknya bunga, Mami. Tapikan tetap sampah juga.”

“Bah…!” Anakku bisa membaca pikiranku ternyata.

“Kok bah? Bah Bolon maksud Mami…?”

Tata anakku turun dari mobil, dengan cuek hanya melambaikan tangan. Dia sekolah di SMA Negeri 4 di kota yang sejuk ini.

Facebook Comments

Comment

Leave a Reply