Dua Mahasiswi UI Buat Konsep Pengubah Air Hujan Jadi Energi Listrik

suarasiantar – Indonesia dari letak geografisnya yang merupakan perlintasan garis khatulistiwa, membawa banyak keuntungan bagi masyarakatnya. Dengan hanya memiliki 2 musim, hujan dan panas atau kemarau, Indonesia juga memiliki iklim tropis, tanah Indonesia dikatakan benar-benar subur dan surga bagi para pelancong, terutama dari luar negeri.

Dengan curah hujan yang cukup tinggi, menjadikan hal ini menarik perhatian dua orang mahasiswi Universitas Indonesia (UI). Bagaimana tidak? Kedua orang mahasiswi ini menciptakan suatu konsep pemanfaatan air hujan dengan merubahnya menjadi energi listrik.

Aziza (21) dan Jessica (21), dua orang mahasiswi Fakultas Teknik (FT) UI tersebut, mempu menciptakan konsep yang mereka beri nama Tall Building Generator Scheme: Nitinol Engine at Rooftop Coupled with Rainwater Pipe Turbine. Terdengar asing bagi telinga awan, bukan? Intinya adalah menyuplai air hujan menjadi energi listrik dan air bersih.

Seperti apa konsep tersebut?

Disadur dari Kompas.com, “Cara kerjanya serupa dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di sungai,” ujar Aziza, di Senopati, Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Melihat cara kerja serupa dengan PLTA, konsep ini memanfaatkan dua tangki untuk menampung air hujan, di mana nantinya air akan mengalir melewati pipa menuju generator (mesin pembangkit).

Setelah sampai ke generator, air hujan tersebut akan dialihkan menuju sistem filtrasi, sebelum akhirnya didaur ulang dan menghasilkan air bersih yang siap dipergunakan.

Azizah menjelaskan secara lebih lanjut, “Air menjadi masalah bersama masyarakat modern, dan konsep ini menawarkan solusi atas permasalahan tersebut.”

Sementara itu, Jessica menambahkan, konsep ini sangat cocok diterapkan ke gedung-gedung yang di dalamnya terdapat banyak aktivitas manusia, seperti gedung apartemen, hotel maupun pusat perbelanjaan. Sebab selain dari air hujan, konsep ini juga memanfaatkan air limbah yang dihasilkan oleh gedung-gedung komersil tersebut.

“Baik itu air limbah dari toilet, aktivitas di kamar mandi maupun air dari mesin pendingin ruangan (AC),” terang Jessica.

Ide konsep buatan Aziza dan Jessica itu sendiri pernah memenangkan Go Green in The City 2019 (GGiTC) yang diselenggarakan oleh Schneider Electric, dimana kompetisi tersebut ditujukan bagi mahasiswa atau mahasiswi untuk ambil bagian mencari solusi pengelolaan energi yang efisien di kawasan perkotaan dan berdampak positif terhadap lingkungan.

Menurut rencana, keduanya akan mewakili Indonesia untuk bersaing di tingkat Asia Pasifik pada 22 Agustus mendatang, guna memperebutkan tiket ke kompetisi puncak yang diselenggarakan awal Oktober nanti.

“Pada 22 Agustus nanti mereka berdua akan mewakili Indonesia bersaing di tingkat Asia Pasifik untuk memperebutkan tiket ke kompetisi puncak di Barcelona dan Spanyol awal Oktober nanti,” jelas Indah Prihardini selaku Human Resources Director Schneider Electric Indonesia. (sumber:Kompas.com)

 

Facebook Comments

Comment

Leave a Reply

News Feed